Konsisten Menjaga Akhlaknya

" penantian seorang muslimah adalah dengan senantiasa memperbaiki diri. Ketika yang ia damba adalah kekasih yang saleh, maka tiap saat ia tak henti untuk menyalehkan diri. Karena Tuhan hanya akan menjodohkan seseorang dengan yang tepat baginya "

-Ahmad Rifa'i Rif'an



Ini cerita tentang seorang gadis pesantren yang sangat jarang ketemu lelaki. Saat lulus dari pesantren, usianya sudah menginjak seperempat abad. Nah, orangtua sang gadis tentu saja galau. Bingung, bagaimana dapat jodohnya? Jangankan punya teman laki, bahkan komunikasi sama lelaki saja hampir tidak pernah. 
Gadis ini hanya bisa menunggu dan menunggu. Sementara warga kampung sudah mulai berkicau atas hidupnya. "Kasihan ya, sudah umur segitu tapi masih belum nikah-nikah juga. " sebenarnya gadis itu bingung, ia ingin segera menyempurnakan separuh agamanya. Masalahnya, ia tak punya banyak kenalan laki-laki. Sejak kecil ia menghabiskan hidupnya di pondok pesantren, dimana pergaulan antara lelaki dan perempuan sangat dibatasi. 
Tapi gadis itu memutuskan untuk bersabar, dia senantiasa menghibur dirinya bahwa Tuhan sudah mempersiapkan pangeran yang terbaik baginya. Dia percaya, kalau di tempat lain, Tuhan sedang mempersiapkan seorang manusia hebat yang kelak akan dipertemukan dengannya. 
Akhirnya, gadis itu mengisi hari-harinya dengan berbagai aktivitas yang baik dan produktif. Ia menghabiskan hari-harinya di dalam rumah. Mengajar anak-anak kecil ngaji di rumahnya, terkadang ia juga memberi les privat bagi anak-anak di sekitar rumahnya. Ia melakukan itu semua dalam rangka ingin mengamalkan ilmunya. Tanpa minta imbalan apa pu. Gratis. 
Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun pun dilewati. Tapi sang pangeran yang ditunggu-tunggu tak kunjung hadir. Keluarganya mulai resah. Mereka takut gadis ini akan menjadi perawan tua. Mengingat usia sang gadis yang terus bertambah. 
Tapi gadis itu tetap sabar. Ia terus berdo'a dan berdo'a. Ia terus meyakini bahwa upaya terbaik menanti jodoh bagi seorang muslimah adalah dengan menjaga diri sebaik-baiknya dan mengisi waktu penantiannya dengan ibadah dan kesalehan. 
Ia terus memperbaiki diri. Dia berharap mendapatkan jodoh yang juga punya karakter baik. Ia terus menambah ibadah-ibadah rutinnya, karena yakin ketika ia menambah ibadahnya, di tempat lain jodoh yang dipersiapkan oleh Allah untuknya juga sedang menambah ibadah yang serupa. 
Hingga suatu hari, datanglah seorang lelaki ke rumahnya. Lelaki itu menampilkan dirinya sebagai pedagang buku. Awalnya pria ini mendengar di kampung tersebut ada seorang gadis lulusan pesantren yang sangat baik akhlaknya dan cukup dalam ilmu agamanya. Pria ini pun datang ke rumah gadis itu, memberinya satu demi satu buku yang dimilikinya. 
Buku demi buku terus dikirim. Perkenalan mereka sangat singkat. Hubungan yang dijalin berada diambang aman, karena perkenalan mereka selaku dimediasi oleh keluarga. Tak ada pacaran, tak ada tunangan, setelah dirasa cocok, sang pria langsung menegaskan dengan lamaran. 
Gadis itu hanya ingin mencari pemuda yang ilmu agamanya baik. Dari pertemuan yang tak lama itu, dengan background pesantrenya, sang gadis tak kesulitan mengorek 
Ilmu agamanya baik, maka itu sudah lebih dari cukup. 
Beberapa hari sebelum khitbah, barulah keluarga sang gadis itu tahu muasal pria yang dengan berani melamar putrinya tersebut. Betapa terkejutnya orangtua sang gadis ketika mengetahui bahwa pemuda yang melamar putrinya ternyata adalah seorang tokoh masyarakat yang sangat terpandang di daerahnya. Bukan seorang penjual buku. Orangtuanya sangat terkejut, karena ternyata yang melamar anak gadisnya adalah seorang lulusan S2 di sebuah perguruan tinggi Islam, seorang pengusaha sukses, juga terkenal sebagai pemuda yang baik akhlaknya. 
Mereka berdua akhirnya menikah. Kini Alhamdulillah, mereka sudah dikaruniai seorang putra. Beberapa hari yang lalu saya menjenguk bayi mungilnya yang sangat tampan. Kata sang ibu, "ketika hamil, nggak henti-henti tuh kubacaian surah Yusuf. Alhamdulillah, bayinya cowok dan Alhamdulillah juga, cakep, hehe. "
Ya, inilah adilnya Islam. Agama mengajarkan jika kita ingin berjodoh dengan sang saleh, langkah pertama yang harus kita tempuh adalah dengan menyalehkan diri. Bila kita bercita-cita ingin berjodoh dengan orang yang rajin dhuha, kita pun harus merajinkan shalat dhuha. Jika kita bercita-cita ingin berjodoh dengan orang yang rajin puasa sunnah, kita pun harus merajinkan puasa sunnah. Apabila kita bercita-cita ingin berjodoh dengan orang yang rajin tahajud, sedekah, tilawah, dakwah, kita pun merajinkan seluruh ibadah-ibadah itu. 
Jika kita berharap Tuhan menurunkan kekasih yabg rajin ibadah A, B, C dan D, kita harus mulai menjemput jodoh hebat tersebut dengan cara merajinkan ibadah A, B, C,  dan D. 

 Dikutip dari Buku "THE PERFECT MUSLIMAH" halaman: 173-176 karya Ahmad Rifa'i Rif'an. 

Komentar